7.500 ton beras impor asal Thailand

Sebanyak 7.500 ton beras impor asal Thailand masuk ke Sulsel melalui Pelabuhan Parepare, kemarin. Beras tersebut untuk dikonsumsi masyarakat di kawasan timur Indonesia (KTI). Kepala Divisi Regional Bulog Sulsel Tommy S Sikado mengatakan, rencananya beras impor yang akan masuk ke Sulsel tahun ini sebanyak 50.000 ton. Namun, untuk tahap awal baru 7.500 ton. Tommy menegaskan, beras asal Thailand itu hanya dititipkan di gudang Bulog yang ada di Parepare dan bukan untuk konsumsi orang Sulsel.

“Kami jamin,sebutir pun beras impor tersebut tidak akan dijual di Sulsel,”ungkapnya. Pasalnya, beras itu untuk kebutuhan beberapa daerah di KTI yang kekurangan stok beras. “Nanti dikirim ke Kalimantan, Ambon, Papua, termasuk Nusa Tenggara Timur (NTT),”katanya. Digunakannya gudang Bulog LapPade Parepare sebagai tempat penitipan, lantaran daerah penerima tidak memiliki gudang yang memadai. “Kapasitas gudang Bulog kami yang ada di Parepare cukup besar.

Daya tampungnya bisa mencapai 100.000 ton,” ujarnya. Hanya,Tommy enggan menyebutkan berapa lama beras tersebut dititip di gudang Bulog Lapadde. “Intinya, hanya dititip dan akan disalurkan ke daerah penerima,”ucapnya. Pihaknya sudah membentuk tim pengawas agar beras tersebut tidak beredar di pasaran. “Nanti tim ini yang akan mengawasi keluar masuknya barang,”ucapnya. Sementara itu,Ketua Kontak Tani dan Nelayan Andalan (KTNA) Sulsel Rahman Daeng Tayang mendesak beras impor tersebut harus segera dikirim ke daerah penerima. Dia meminta beras tersebut semuanya disalurkan paling lambat Februari mendatang.

“Pasalnya, Maret hingga April,di Sulsel sudah memasuki masa panen,” katanya. Dia khawatir beras impor tersebut belum tersalur ke daerah tujuan hingga mendekati musim panen.“Kami khawatir, harga beras akan jatuh dan merugikan petani di Sulsel apabila beras asal Thailand tersebut masih berada di gudang Bulog Lappade,”ungkapnya. Rahman juga meminta keluar masuknya beras impor tersebut diawasi ketat petugas Bulog. “Siapa yang berani menjamin kalau beras itu tidak jatuh di jalan dan menyebar di pasaran,”katanya.

Dia mengatakan,sampai sekarang KTNA Sulsel masih tetap dengan sikapnya,yakni menolak adanya beras impor.“Tahun lalu saja kami menjual 20.000 ton beras ke Jawa Timur,” paparnya. Tidak hanya itu, sampai sekarang Sulsel masih bisa memberi makan beberapa daerah yang kekurangan beras,terutama di wilayah Indonesia bagian timur.“Untuk apa kami impor kalau stok masih berlimpah,” tandasnya. Badan Pusat Statistik (BPS) Sulsel memprediksi, tahun ini produksi padi Sulsel 4,46 juta ton. Jumlah ini meningkat 1,82% dibanding produksi 2010.

Sementara angka tetap (ATAP) produksi padi Sulsel 2010 lalu sebanyak 4,38 juta ton gabah kering giling (GKG). Dibandingkan antara ATAP 2010 dan angka ramalan (ARAM) III/2011, terjadi peningkatan produksi 79,91 ton atau naik 1,82%.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel