Heriyanto Alias Melky

Heriyanto alias Melky, 22, mahasiswa Universitas Negeri Makassar (UNM) yang menjadi terdakwa perkara pembunuhan Irfan Natsir, 22, divonis 12 tahun penjara oleh majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Makassar, kemarin.

Heriyanto terbukti melakukan penganiayaan dengan senjata tajam dan menewaskan Irfan yang juga tercatat sebagai mahasiswa jurusan sejarah UNM. Vonis yang dijatuhkan majelis hakim terhadap Heriyanto sama dengan tuntutan jaksa penuntut umum (JPU). Majelis hakim dalam amar putusannya menyebutkan, terdakwa dengan sengaja melakukan pengejaran terhadap korban Irfan dan melakukan pengeroyokan disertai penganiyaan.

Terdakwa terbukti dengan sengaja menikam korban hingga tewas dalam perjalanan ke rumah sakit. ”Terdakwa bersama sejumlah rekannya melakukan pengeroyokan terhadap korban dan I Gede Justiasta (saksi korban). Terdakwa dengan sengaja melakukan penikaman dengan menggunakan senjata tajam jenis badik didaearh perut dan punggung yang mengakibatkan korban Irfan meninggal dunia,” kata ketua majelis hakim Jamuka Sitorus di PN Makassar, kemarin.

Majelis hakim menilai,Heriyanto secara sah dan meyakinkan, ditunjang dengan faktafakta yang terungkap selama persidangan telah melanggar pasal 338 Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) tentang Pembunuhan, juncto Pasal 55 yang mendakwa turut bersama- sama melakukan perbuatan tersebut.Dengan putusan tersebut, majelis hakim juga memerintahkan agar terdakwa ditahan di Lembaga Pemasyarakatan Klas I Makassar.

Dalam amar putusannya, majelis hakim juga mempertimbangkan beberapa hal yang dianggap bisa meringankan hukuman bagi terdakwa, antara lain selama proses persidangan berlangsung terdakwa berlaku sopan.Selain itu,di hadapan majelis hakim terdakwa juga mengaku dan menyesali perbuatannya.

Diketahui, kejadian pengeroyokan terhadap Irfan Natsir dan temannya I Gede Justiasta pada bulan Februari 2012 lalu terjadi di Jalan Raya Pendidikan, samping kampus UNM Gunung Sari. Dalam persidangan terungkap kalau kejadian ini dipicu dendam lama yang melibatkan korban dan terdakwa.

Sementara itu,penasihat hukum terdakwa Andi Ware usai persidangan di PN Makassar mengatakan,hal-hal yang menjadi bahan pertimbangan meringankan majelis hakim dalam amar putusannya, seharusnya bisa mengurangi jumlah hukuman yang dijatuhkan, lebih rendah dari tuntutan JPU. Apalagi dalam persidangan seperti dikatakan majelis hakim, terdakwa sudah mengakui menyesali perbuatannya tersebut. “Kami p[ikir-pikir dengan putusan hakim,”tandas Andi Ware.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel